DARI TAHUN HIJRIAH HINGGA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

  • Home -
  • DARI TAHUN HIJRIAH HINGGA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
research
  • 13 Agu
  • 2021

DARI TAHUN HIJRIAH HINGGA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

DARI TAHUN HIJRIAH HINGGA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA :

REFELEKSI SEJARAH PERADABAN ISLAM TERHADAP PANDEMI COVID-19

 

Oleh : Ust. Aforisma Mulauddin, M.E

Kepala Pendidikan Mahad Tuhfatul Islam Adab and Quranic Boarding School

 

Pada tanggal 10 Agustus 2021 Umat muslim saat ini telah memasuki tahun 1443 H karena bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1443 H, hal itu berarti telah lebih dari 14 abad sejak awal pertama kali Rasulullah ﷺ dan seluruh kaum muslimin berhijrah ke kota Yatsrib. Hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah ﷺ lantaran mendapatkan begitu banyak penyiksaan oleh kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin. Melakukan hijrah untuk menghindari siksaan dari orang kafir Quraisy bukan hanya sekali dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin, sebelumnya pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke negeri Habasyah sebanyak 2 (dua) kali.

Lalu berikutnya Rasulullah ﷺ pun pernah meninggalkan kota Mekkah karena dianggap dakwah beliau sudah tidak dapat lagi diterima oleh karenanya beliau ﷺ keluar menuju Thaif pada  bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian. Namun hal serupa dialami oleh beliau ketika berada di Thaif bersama Zaidb bin Haritsah yakni mendapatkan penolakan dakwah oleh penduduk Tha’if sehingga menurut riwayat Bukhari dan Muslim Allah ﷺ mengutus malaikat gunung untuk meratakan penduduk Tha’if dengan gunung Al-‘Akhasyabain (dua gunung di Mekkah). Walaupun demikian Rasulullah ﷺ tidak mengambil penawaran tersebut melainkan mendoakan agar terlahir dari tulang rusuk penduduk Tha’if, generasi muslim yang taat menyembah Allah ﷻ dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Selanjutnya setelah dakwah islam masuk melalui Duta Islam pertama di Madinah yakni Mush’ab bin Umair dapat dipastikan hampir setiap rumah-rumah di Yatsrib sudah ada laki-laki yang masuk islam. Maka dari itu setelah proses Bai’at Aqabah ke-2 ketika bertepatan pada musim haji tahun ke-13 kenabian, Rasulullah ﷺ telah berhasil mambangun sebuah tanah air ditengah-tengah gelombang kemusyrikan di Mekkah. Setelah itu Rasulullah ﷺ pun mengizinkan para Shahabatnya untuk berhijrah meninggalkan kampung halaman mereka di Mekkah menuju Yatsrib meskipun dengan berbagai resiko yang mengancam prosesi hijrah tersebut dan ketika beliau ﷺ tiba di pertama kali di Yatrib maka beliau pun mengganti nama kota Yatsrib menjadi Madinatur Rasul ﷺ (kota Rasulullah) yang kemudian diungkapkan dengan Madinah supaya lebih ringkas.

Prosesi hijrah tersebut tentunya tidak akan dilakukan oleh Rasulullah ﷺ melainkan sebelumnya Allah ﷻ telah mengisyaratkan melalui firman-Nya :

وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا 

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi : 16)

Ayat tersebut menceritakan tentang Ashabul Kahfi yang diberi petunjuk untuk hijrah dari pusat kekufuran dan permusuhan karena dikhawatirkan mendatangkan cobaan terhadap agama dengan memasrahkan diri kepada Allah ﷻ. Sedangkan petunjuk Allah ﷻ lainnya yang memberikan isyarat agar kaum muslimin berhijrah dan menyatakan bahwa bumi Allah ﷻ ini tidaklah sempit adalah :

قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Dengan ayat ini setidaknya Rasulullah ﷺ memiliki petunjuk untuk memerintahkan kaum muslimin agar keluar dari tempat atau daerah yang penuh dengan kemusyrikan dan kemaksiatan atas pertimbangan kemaslahatan agama. Sejak saat itu kaum muslimin pun berhasil membangun sebuah peradaban islam hingga memberikan kemenangan bagi islam atas segala siksaan dan ancaman yang telah menimpa mereka sebelumnya. Seiringan dengan perkembangan dan kemajuan islam maka Umar bin Khattab ketika menjabat sebagai Amirul Mukminin setelah menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Khalifah pada saat Rasulullah ﷺ wafat, telah menetapkan penanggalan Islam dengan menjadikan awal hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah sebagai awalnya 1 Hijriah. Maka sejak saat itu tersyiarlah penanggalan Hijriah ditengah-tengah kaum muslimin sejak zaman khalifah Umar bin Khattab.

Hijrah (هِجْرَة) dalam Kamus al-Maaniy berarti Perpindahan, Imigrasi. Secara istilah Hijrah (الْمُهَاجَرَةُ) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dan hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Sayid Muhammad Rasyid Ridha harus dengan sebenar-benarnya. Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dengan menegakkan agamaNya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

Secara peradaban islam kaum muslimin tidak memerlukan lagi hijrah, hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah ﷺ bahwa setelah adanya pembebasan kota Mekkah (Fathu Makkah) maka tidak ada lagi Hijrah. Hal tersebut berarti hijrah dari kekufuran kala itu telah selesai ketika kaum Quraisy menerima Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin. Maka tugas selanjutnya bagi kaum muslimin setelah itu adalah berangkat berjihad untuk menegakkan islam diatas kedzaliman dan kekafiran.

لَا ‌هِجْرَةَ ‌بَعْدَ ‌الفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا

“Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (fathu makkah) akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperintahkan berangkat untuk berperang, maka berangkatlah kalian.” (HR. Bukhari No. 2783 dan Muslim No. 1864)

Semangat hijrah tersebut terus digencarkan oleh para kaum muslimin secara silih berganti seiringan dengan semangat jihad fi sabilillah. Hal tersebut lantaran dalam beberapa ayat Allah ﷻ menyandingkan syariat hijrah dengan syariat jihad yang membuat para pejuang islam rela mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya agar mendapatkan balasan tertinggi dari Allah ﷻ.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ يَرۡجُونَ رَحۡمَتَ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218)

Dengan landasan tersebut kaum muslimin sangat berambisi untuk mencari Rahmat dan ampunan Allah ﷺ dengan berjuang di jalan-Nya. Dibawah kepemimpinan para Khulafaur Rasyidun dan para khalifah setelahnya umat muslim hampir berhasil menguasai 1/3 dunia pada saat masa kejayaan islam. Tidak luput negara Indonesia yang menjadi target ekspansi jihad kaum muslimin dari timur tengah tersebut. Indonesia menjadi sasaran jihad dari para Jundullah dan hebatnya tanpa harus melewati peperangan. Metodologi jihad yang diterapkan adalah dengan dakwah, perdagangan dan tanpa pertumpahan darah. Konsep jihad para ulama saat itu adalah menyebarkan agama islam ke seluruh penjuru dunia, melanjutkan risalah kenabian yaitu dakwah.

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".  (QS. Yusuf : 108)

Dalam buku Api Sejarah 1 karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dijelaskan bahwa Syaikh Ar-Rabwah dalam kitab Nukbat ad-Dahr menceritakan telah ada wirausahawan muslim dari Jazirah Arabia yang memasuki kepulauan Indonesia sejak pada masa Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 24-36 H / 644-656 M. Setelah Nusantara dikenalkan agama Islam maka pribumi dengan penuh keikhlasan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru negeri dengan beberapa pendekatan, diantaranya melalui perdagangan, pendidikan dan politik. Terbukti dengan seketika bertebarannya kerajaan-kerajaan islam di Nusantara sampai akhirnya kaum imperealis kafir eropa mengambil kekuasaan dengan penjajahan selama ± 3,5 abad lamanya.

Namun semangat jihad di dalam hati dan jiwa kaum muslimin tidak pernah pudar, hal ini yang digelorakan oleh para ulama nusantara dalam merebut kemerdekaan. Dengan menanamkan kesadaran bahwa melawan kaum imperealis kafir eropa adalah jihad, maka setelah perjuangan yang cukup panjang kaum muslimin di Indonesia berhasil meraih kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945 bertepatan pada tanggal 10 Ramadhan 1366 H. Para ulama yang berkontribusi dalam kemerdekaan ini tentu tidak hanya berniat untuk mempertahankan keutuhan kekayaan nusantara semata melainkan tentu juga agar terbebas dari jeratan kekufuran yang dibawa oleh imperealis katolik dan protestan. Sehingga semangat hijrah Rasulullah ﷺ dan jihad kaum muslimin untuk meninggalkan kedzaliman dan kekufuran tertanam di dalam hati para ulama dan santri Nusantara.

Setelah 76 tahun melewati masa merdeka tentu banyak torehan prestasi serta tantangan bagi bangsa Indonesia, terutama belakangan ini wajah Indonesia tengah di gandrungi oleh wabah pandemi covid-19 sejak awal tahun 2020 lalu. Bahkan Indonesia pada tahun 2021 ini digadang-gadang menjadi Negara dengan tingkat kematian harian kasus Covid-19 tertinggi di Dunia. Tentunya hal ini bukanlah kabar yang menggembirakan bagi bangsa Indonesia maupun bagi seluruh manusia di dunia, lantaran musibah ini bukan hanya menimpa Indonesia melainkan seluruh dunia.

Namun bukanlah ciri seorang muslim bila pesimis terhadap keadaan tanpa melakukan suatu langkah solusi dan mencari kebaikan. Berangkat dari momen Tahun Baru Hijriah 1443 yang bertepatan pada Bulan Kemerdekaan Indonesia, hendaknya bangsa Indonesia mengambil spirit hijrah untuk menanggulangi musibah ini. Hijrah dari kondisi pandemi yang berdampak pada seluruh sektor menuju kondisi adaptasi kehidupan baru. Jika bercermin pada hijrah nya Rasulullah ﷺ maka ada beberapa langkah yang perlu ditumbuhkan kembali oleh bangsa Indonesia khususnya umat muslim saat ini sebagaimana yang Rasulullah ﷺ laksanakan ketika hijrah ke Madinah, diantaranya adalah :

Membangun Masjid Nabawi, tentunya pembangunan saat pandemi seperti ini bukanlah hal yang mudah dan momen saat ini tentu berbeda konteksnya dengan momen saat hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah. Namun sejatinya pembangunan masjid nabawi bukan hanya pembangunan secara fisik melainkan pembangunan peran dan fungsi masjid di tengah masyarakat. Pada era pandemi terdapat beberapa kebijakan pemerintah untuk menutup masjid agar tidak terjadi kerumunan manusia, meskipun hal ini menuai berbagai pro dan kontra di tengah masyarakat namun hal tersebut tidaklah menghilangkan peran dan fungsi masjid sebagai sentral peribadahan umat ditengah masyarakat.

Diantaranya Masjid dapat hadir sebagai fasilitas untuk memberikan edukasi kesehatan bahkan intermediasi bantuan bagi korban yang terkena dampak pandemi baik secara langsung karena gejala dan indikasi virus covid-19 atau pun secara tidak langsung berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan lain sebagainya. Sehingga membangun peran masjid di tengah pandemi covid-19 dapat memberikan peran dan fungsi masjid yang sentral dalam kemaslahatan ummat, bukan hanya dibidang ibadah namun juga dibidang sosial kemasyarakatan. Dan hal tersebut juga seiringan dengan perintah Allah ﷻ untuk memakmurkan masjid.

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah : 18)

Mempersaudarakan Kaum Muslimin, ketika awal hijrah ke Madinah maka Rasulullah ﷺ membuat sebuah tindakan yang sangat monumental yaitu mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan ashar. Beliau ﷺ mempersaudarakan mereka agar saling tolong-menolong, menghilangkan fanatisme ras, keturunan dan daerah. Tentu hal ini akan sangat dirasakan manfaatnya bagi manusia saat ini, berdasarkan rasa persaudaraan maka sikap tolong menolong pun akan secara sukarela ditumbuhkan tanpa harus melihat golongan dan suku. Rasa kemanusiaan akan semakin bertambah jika menanamkan rasa persaudaraan kepada antar sesama muslim atau bahkan antar sesama manusia.

Tentu momen ditengah wabah covid-19 ini seseorang tidak akan mampu menghadapinya tanpa bantuan orang lain, apalagi ketika seseorang harus mengidap virus covid-19 yang mewajibkan dirinya untuk mengisolasi mandiri tanpa berinteraksi secara bebas dan langsung dengan masyarakat. Disatu sisi kebutuhan pokok seseorang tidak bisa dihilangkan, maka jiwa persaudaraan lah yang dapat menangani permasalahan kebutuhan pokok serta kebutuhan lain sesama saudaranya.

المُسْلِمُ ‌أَخُو ‌المُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

“Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh senantiasa akan menolongnya” (HR. Bukhari No. 2442 dan Muslim No. 2564)

Meskipun demikian hendaknya hal tersebut tidak dijadikan sandaran bagi seseorang untuk berpangku diri mengharapkan bantuan dari orang lain ketika memiliki kemampuan, justru seharusnya hal tersebut menjadi motivasi bagi semua orang baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung dari wabah pandemi covid-19 ini untuk bisa memberikan bantuan kepada sesama saudaranya baik dalam bentuk moril seperti do’a, dukungan, kepedulian maupun dalam materil berupa bantuan sembako, uang tunai, obat-obatan atau sebagainya.

Sebagaimana Abdurrahman bin ‘Auf yang dipersaudarakan dengan Sa’ad ar-Rabi’ lalu ditawarkan seorang istri dan separuh hartanya, namun Abdurrahman bin ’Auf tidak mau menerimanya melainkan ia ingin berusaha dengan tangannya sendiri. Maka Abdurrahman bin ‘Auf pun menanyakan perihal lokasi pasar lantas ia pun berdagang disana. Hingga Rasulullah ﷺ ketika menemuinya, telah menjadi seorang saudagar yang berhasil di Pasar Bani Qainuqa. Dari keterangan hadits diatas maka bagi seseorang yang hendak membantu saudaranya ditengah mengalami kesulitan, maka kelak ia pun akan dibantu oleh Allah ﷻ baik di dunia maupun di akhirat.

Pengaruh Spiritual dalam Masyarakat, pada saat pertama kali hijrah ke Madinah tidak cukup hanya melakukan upaya ikhtiar secara fisik dengan membangun masjid dan mempersaudarakan kaum muslimin, Rasulullah ﷺ pun memberikan pengaruh spiritual yang besar kepada kaum muslimin. Beliau ﷺ mengajari, mendidik, membimbing, menyucikan jiwa manusia, menuntun mereka kepada akhlak yang baik, menanamkan adab kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, ibadah dan ketaatan. Kekuatan iman memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat pada kondisi pandemi seperti ini.

Bagi seorang beriman tentu meyakini bahwa pandemi covid-19 ini telah menjadi ketentuan takdir Allah ﷻ sebagaimana pernah menimpa umat sebelumnya, maka dalam menghadapinya diperlukan kesabaran untuk mencari solusi agar senantiasa dapat menjalani kehidupan secara optimal. Sedangkan tidak sedikit pula bagi yang tidak meyakini hal ini sebagai salah satu dari ketentuan Allah ﷻ beropini terkait penyebab pandemi ini tanpa didasari konsep ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan, tentunya hal ini dapat menyesatkan manusia lainnya ditambah lagi apabila yang beropini tersebut adalah seorang publik figur.

Maka dari itu untuk menghadapi kondisi seperti ini selain diperlukan pendekatan empiris untuk menyelesaikannya secara medis, dibutuhkan juga pendekatan spiritual untuk meminta petunjuk dan pertolongan dari Sang Khalik atas pandemi ini.

‌فَافْزَعُوا ‌إِلَى ‌ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

“maka segeralah untuk mengingat Allah, berdoa dan minta ampunan” (HR. Bukhari no. 1059)

Untuk melakukan hal ini seseorang tidak dapat dengan menyandarkan kepada orang lain saja, melainkan seyogyanya berangkat dari masing-masing individu sehingga terbentuk kebaikan secara kolektif. Hal tersebut yang dijalankan Rasulullah ﷺ yang memiliki perangai kepribadian dan semua sifat utama secara lahir dan batin, selain itu beliau lakukan juga dengan menyampaikan keutamaan dan pahala berbagai macam ibadah disisi Allah ﷻ sehingga kaum muslimin semakin antusias untuk memahami dan mencermatinya. Maka hal tersebut pun dapat dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyikapi kondisi saat ini, yakni senantiasa berdakwah mengingatkan manusia terhadap kebaikan serta menjauhi keburukan. Sehingga dapat tercipta keshalihan individu menjadi keshalihan kolektif.

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran : 104)

Semoga dengan mencermati hijrahnya Rasulullah ﷺ serta spirit jihad kaum muslimin sehingga bisa menyebarkan islam sampai ke nusantara dan menjadikan Indonesia merdeka dari penjajahan kaum imperealis katolik dan protestan dapat menjadi stimulus masyarakat Indonesia menghadapi pandemi covid-19 yang sudah menimpa lebih dari 1 (satu) tahun. Semoga di tahun baru 1443 H kaum muslimin dapat berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa Indonesia yang pada saat ini juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Semoga Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ini dan semoga para korban yang wafat akibat pandemi ini diberikan tempat terbaik di sisi Allah ﷻ. Aamiin

 

Referensi :

  1. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, (1422). Shahih al-Bukhari, Beirut : Dar Tauq al-Najah
  2. Abu Hasan Muslim al-Hajaj, Shahih Muslim, Kairo : Daar al-Ihya al-Turats al-Arabiy
  3. Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, (2014). Ar-Rahiqul Makhtum Sirah Nabawiyah, Jakarta : Ummul Qura,
  4. Ahmad Al-Usairy, (2016). Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adab Hingga Abad XX, Jakarta : Akbar Media
  5. Ahmad Mansur Suryanegara, (2015). Api Sejarah, Bandung : Suryadinasti

 

 

 

 

 

DIbuat Oleh :

Ust. Aforisma Mulauddin, M.E

Kepala Pendidikan Mahad Tuhfatul Islam

Adab and Quranic Boarding School

 

at Tuhfah Office

Jum’at, 13 Agustus 2021 | 4 Muharram 1443 H

 

Post by :

Akhukum Amrullah Nasrudin