KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH

  • Home -
  • KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH
research
  • 31 Jul
  • 2021

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH

KAJIAN DHUHA MASJID AL-IKHLAS MAHAD TUHFATUL ISLAM

ADAB AND QUR’ANIC BOARDING SCHOOL

Oleh : Aforisma Mulauddin, S.Kom., ME

    Perintah shalat pertama kali diturunkan pada peristiwa Isra Mi’raj. Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda ingin mendatangi rumah kaum muslimin yang meninggalkan shalat berjama’ah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ، فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ، فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ، أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ العِشَاءَ»

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama'ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperaleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat 'Isya berjama'ah." (HR. Bukhari No. 644)

Ulama yang mengatakan bahwa shalat jama’ah adalah Fardhu ‘Ain diantaranya Atha’, al-Auza’I, Ahmad dan sejumlah ulama hadits dalam madzhab Syafi’I seperti Abu Tsaur, Ibnu Khuzamah, Ibnu Al-Munzir serta Ibnu Hibban. Sementara Daud dan orang-orang yang sepaham dengannya mengemukakan bahwa berjama’ah adalah syarat sah nya shalat. Adapun secara lahiriah pernyataan Imam Syafi’I menyatakan bahwa shalat berjama’ah adalah Fardhu Kifayah, sehingga inilah yang dijadikan pendapat di kalangan mayoritas ulama Madzhab Syafi’i. demikian juga dikemukakan oleh sejumlah ulama madzhab Hanafi dan Maliki. Sedangkan pendapat yang masyhur dikalangan ulama adalah hukumnya Sunnah Muakkadah.[2]

وَكَانَ الأَسْوَدُ: إِذَا فَاتَتْهُ الجَمَاعَةُ ذَهَبَ إِلَى مَسْجِدٍ آخَرَ

Biasanya al-Aswad[3] apabila tidak sempat mendapatkan shalat berjama’ah, maka dia pergi ke masjid yang lain.

وَجَاءَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: إِلَى مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ، فَأَذَّنَ وَأَقَامَ وَصَلَّى جَمَاعَةً

Sedangkan Anas Bin Malik ketika datang ke masjid[4] sedangkan shalat telah selesai, maka dia adzan dan iqamat lalu shalat berjama’ah.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلَاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari No. 645)

Sedangkan dalam hadits yang lain dikatakan :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: ‌تَفْضُلُ صَلَاةُ الجَمِيعِ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ، بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا

bahwa Abu Hurairah berkata Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat berjama'ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian” (HR. Bukhari No. 648)

Pahala berlipat ganda apabila seseorang melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. Makna derajat atau bagian dalam hadits tersebut adalah setelah seseorang mendapatkan pahala shalat sendirian, maka dilipatgandakan sebanyak jumlah yang tersebut dalam hadits. Dengan melaksanakan shalat berjama’ah maka seseorang telah menjalani salah satu adab terhadap Allah ﷺ yakni memakmurkan masjidnya.[5] Allah ﷺ berfirman :

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah : 18)

Hikmah dibalik syariat shalat berjamaah adalah keterikatan hubungan emosional umat islam senantiasa terjaga dengan saling bertemu, tegur sapa dan berinteraksi. Maka shalat berjama’ah dapat mempererat ukhuwah islamiyah sesama muslim.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat : 10)

Dengan shalat berjama’ah maka kaum muslimin senantiasa  memiliki sarana untuk saling berkomunikasi, diantaranya adalah dapat saling mengingatkan dan memberikan nasihat. Shalat berjama’ah pun menjadi sebuah ladang dakwah kaum muslimin supaya ketika berkomunikasi saling memberikan motivasi sehingga menguatkan keimanan serta memperbaiki kualitas ibadah.

عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ ‌كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Dari Abi Musa dari Nabi SAW., beliau bersabda, “Sungguh (sebagian) mukmin kepada (sebagian) mukmin lainnya seperti bangunan, yang menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya.” Dan beliau menyilangkan jari-jarinya.“ (HR. Bukhari No. 481)

Perbedaan jabatan, strata sosial dan pendidikan tidak terlihat ketika semua kepala tertunduk pada lantai yang sama untuk mengagungkan Allah ﷻ dalam shalat berjama’ah. Maka seorang muslim tidak pantas membanggakan kemewahan pada kehidupannya, hendaknya shalat berjama’ah menjadikan kesadaran bagi manusia agar belaku hidup sederhana. Dari hal ini maka semestinya umat islam menyadari bahwa pakaian dunia tidak terlihat sebagai suatu kebaikan di sisi Allah ﷻ, namun ketaatan dan ketaqwaan lah yang menjadikan seorang mulia disisi-Nya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Dengan kebersamaan shalat berjamaah maka hal ini menjadi instrumen tersendiri bagi umat islam untuk membangun persatuan dan kesatuan. Dimana dalam shalat berjama’ah terdapat sebuah simbol persatuan bahwa tidak ada jama’ah yang boleh berselisih dengan imam/pemimpin, ketika ada perbedaan gerakan dalam shalat antara imam maka sang shalat sang makmum menjadi tidak sah alias batal. Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Umar bin Khattab dalam sebuah khutbahnya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

‌عَلَيْكُمْ ‌بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Hendaklah kalian selalu bersama Al-Jama'ah. Dan janganlah kalian berpecah belah, karena setan itu selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia lebih jauh.

Maka dalam shalat berjama’ah umat islam pun diajarkan untuk senantiasa bersatu dalam satu jama’ah dan tidak membatasi persaudaraan dengan batas teritorial belaka. Dengan begitu besar kemuliaan shalat berjama’ah maka hendaknya seorang muslim tidak meremehkan pahala shalat berjama’ah meskipun hanya berdua orang saja, karena syarat utama dalam shalat berjama’ah yaitu terdiri dari imam dan makmum.

 

Referensi :

  1. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, (1379). Fathul Bari, Beirut : Daar al-Ma’rifah
  1. Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, (1998). Sunan al-Tirmidzi, Beirut : Dar al-Gharbi al-Islami
  2. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, (1422). Shahih al-Bukhari, Beirut : Dar Tauq al-Najah
  3. Asep Iskandar, Aforisma Mulauddin, (2021). Pedoman Pendidikan Adab dan Muaddib, Jakarta : Ma’had Tuhfatul Islam
  4. Saif Maulana Yusuf, (2020). Pesan Guru Hebat untuk Murid Beradab, Sukabumi : Farha Pustaka

 

 

[1] Disadur dari buku Pesan Guru Hebat untuk Murid Beradab karya Ust. Saif Maulana Yusuf, Lc, M.Ag

[2] Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, Beirut : Daar al-Ma’rifah, 1379, Juz 2, Hlm. 125

[3] Ibnu Yazid An-Nakha’I seorang Tabi’in senior

[4] Anas bin Malik melewati Masjid Bani Tsa’labah. Yang demikian itu terjadi pada saat shalat shubuh.

[5] Asep Iskandar, Aforisma Mulauddin, Pedoman Pendidikan Adab dan Muaddib, Jakarta : Ma’had Tuhfatul Islam, 2021

 

SELASA, 28 JULI 2021 / 18 DZULHIJJAH 1441 H | MASJID AL-IKHLAS COGREG, TUHFATUL ISLAM