Konsep Pendidikan Islam

Oleh : Al-Faqir Mulauddin

DEFINISI PENDIDIKAN ISLAM

Secara bahasa pendidikan berarti perbuatan (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan, tetapi sering merupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti memelihara hidup tumbuh ke arah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.

Kata “pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah, dengan kata kerja rabba. Sedangkan “pendidikan Islam” dalam bahasa Arabnya adalah Tarbiyah Islamiyah. Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa menurut Kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah berasal dari tiga kata pertama, rabayarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh. Kedua, rabiya-yarba, yang berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.”

Pendidikan Islam ialah pendidikan yang berdasarkan Islam. Pendidikan Islam ialah pendidikan yang teoriteorinya disusun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Pendidikan Islam pada umumnya dipahami sebagai suatu ciri khas, yaitu jenis pendidikan yang berlatar belakang keagamaan. Dapat juga di ilustrasikan bahwa pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal, dan tanggungjawab dalam moral.

Secara istilah pendidikan islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai cocok kepribadiannya. Muhammad Athiya Al-Abrasyi berpendapat bahwa Pendidikan Islam (At-Tarbbiyah al-Islamiah) mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun tulisan.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah proses mempersiapkan generasi muslim yang mampu mengemban risalah Islam sebagai paradigma universal dan rahmat bagi seluruh alam. Yaitu generasi yang memiliki sumber daya manusia yang tangguh baik segi fisik maupun intelektual dalam rangka menerjemahkan ajaran-ajaran Islam yang sebagian di antaranya berdimensi proses itu kemudian didakwahkan kepada seluruh umat manusia.

DALIL-DALIL TARBAWI

Pendidikan Islam adalah sistem pengajaran yang didasarkan pada ajaran agama Islam. Sumber ajaran Islam yang dimaksudkan adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan pengertian ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa setiap pendidikan yang bukan bersumber ajaran Islam tidak dikategorikan sebagai pendidikan Islam. Dalam menetapkan sumber pendidikan Islam dikemukakan tiga dasar utama dalam pendidikan Islam, yakni Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad.

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ [ الـعلق:1-5]

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah * Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah * Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam * Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [Al ‘Alaq:1-5]

Ayat ini merupakan wahyu Allah ﷻ yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah ﷺ yang kala itu belum diangkat menjadi Rasul. Namun dengan turunnya ayat ini maka Rasulullah ﷺ untuk pertama kalinya diangkat menjadi Nabi. Dengan ayat ini Allah ﷻ memberikan kemuliaan kepada manusia dengan ilmu, sebab pada ayat ini turun perintah kepada manusia untuk membaca, mempelajari dan memikirkan hal-hal di muka bumi ini yang telah Allah ﷻ ajarkan.

أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ يُعِيدُهُۥٓۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ [ العنكبوت:19-20]

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah * Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Al-Ankabut:19-20]

Pada ayat ini Allah ﷻ berfirman agar para hamba-Nya menghayati ayat-ayat kauniyah yang menggambarkan tentang kebesaran-Nya. Tujuannya agar para manusia senantiasa menggunakan karunia kemuliaan berupa ilmu yang dimilikinya untuk berfikir dan menyadari hakikat penciptaan manusia. Karena dengan berfikir dan mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ maka manusia akan sadar tentang tujuannya diciptakan didunia adalah untuk beramal shalih dan juga menyadari bahwa manusia diciptakan didunia dari sebelumnya yang tiada hingga sampai menemui batas waktu yang ditentukan manusia akan meninggalkan dunia untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya di akhirat untuk selamanya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Mujadilah:11]

Oleh karenanya agar manusia senantiasa menyadari hakikat kehidupan di dunia ini, maka hendaknya para manusia mempelajari ayat-ayat Allah ﷻ baik kauliyah maupun kauniyah agar dapat mengenal Allah ﷻ. Maka dari itu salah satu upaya manusia dalam mengenal Allah ﷻ adalah dengan memberikan hak kepada tubuh manusia dengan mengisi nutrisi kelimuan berupa pendidikan. Dan bagi para manusia yang senantiasa mengharapkan kebaikan di sisi Allah ﷻ hendaknya mempelajari tentang ilmu agamanya.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ

Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahwa Nabi ﷺ bersabda “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, niscaya Allah menjadikannya paham dalam masalah agamanya.” (HR. Ahmad No. 16273)

Menurut Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim fi Thariq At-Ta’allum menjelaskan bahwa seorang muslim wajib mempelajari semua keadaan yang akan ia jalani, keadaan apapun itu. Dengan demikian karena ia harus menegakkan shalat maka ia wajib mempelajari ilmu tentang sholat, minimal ilmu yang dengannya ia bisa menjalankan kewajiban shalat.

Selain itu, sekurang-kurangnya ia wajib mempelajari ilmu yang dengannya ia dapat menjalankan semua kewajiban. Sebab, sesuatu yang menjadi wasilah untuk menegakkan sesuatu yang fardhu maka hukumnya juga fardhu. Demikian pula sesuatu yang menjadi wasilah untuk menegakkan sesuatu yang wajib maka hukumnya juga wajib dipelajari. Maka dari itu Rasulullah ﷻ bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

dari Anas bin Malik  ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda: “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah No. 220)

Selain kewajiban bagi seluruh umat manusia, menuntut ilmu merupakan sebuah langkah yang diridhoi oleh Allah ﷻ. Sebab setiap langkah seseorang yang digunakan untuk mempelajari suatu ilmu maka Allah ﷻ akan memudahkan jalannya menuju surga . tentunya yang dalam hal ini ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i sebab imam syafi’i mengatakan bahwa “ilmu itu ada dua, ilmu fikih untuk agama dan ilmu kedokteran untuk badan, selain itu adalah majelis kebodohan”.

أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ telah bersabda “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya” (HR. Muslim No. 4867)

Imam Syafi’i diriwayatkan dari Imam An-Nawawi dalam Kitab Adabul Alim wal Muta’alim pun senantiasa menegaskan bahwa mencari ilmu itu lebih utama daripada melakukan ibadah shalat sunnah. Selain shalat lima waktu, tidak ada kewajiban lain yang lebih utama untuk dilakukan kecuali menuntut ilmu. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, ia harus berilmu. Manusia yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan sama sekali di dalam dirinya. Jauhilah orang yang tidak dapat mencintai ilmu, sebab kalian tidak akan mendapatkan apa-apa darinya. Sebab ilmu adalah kebijaksanaan dan tidak ada kebijaksanaan dalam diri orang yang tidak mencintai ilmu pengetahuan.

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Dari Utsman  dari Nabi ﷺ, beliau bersabda “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari No. 4639)

Dengan demikian, orang yang mempelajari al-Qur’an akan mulia akhlaqnya, yang mempelajari ilmu fiqh akan kaya pengalamannya, yang mempelajari bahasa akan peka tabiatnya, orang yang mempelajari ilmu matematika akan jitu daya nalarnya, orang yang mempelajari ilmu hadits akan kuat argumentasi-argumentasi hukumnya.

Bahkan Imam Bukhari menukil sebuah ungkapan dari Ibnu ‘Amir  “Belajarlah agar kalian tidak menjadi orang-orang yang suka berprasangka”. Dan, ia menuliskannya pada awal bab kewajiban dalam kitab Shahih-Nya. Ia menjelaskan bahwa maksud ‘orang-orang yang suka berprasangka’ adalah suatu perilaku seseorang yang tidak dilandasi keyakinan atau hanya menduga-duga, karena ia tidak memiliki ilmunya.

Lalu yang menjadi landasan utama menurut Akhmad Alim dalam buku Tafsir Pendidikan Islam dalam membangun pendidikan adalah fondasi tauhid. Tauhid adalah dasar ajaran islam yang paling fundamental. Tauhid sebagai inti agama berfungsi sebagai landasan dari semua domain kehidupan dan pemikiran manusia. Bahkan tauhid selain prinsip utama secara keseluruhan dalam hal keimanan, secara umum tauhid juga prinsip utama dalam konstruk epistemologi islam, termasuk dalam upaya melakukan integrasi ilmu, bahkan konstruk pendidikan islam.

Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman didalam Al-Qur’an :

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ [ لقمان:13-13]

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. [Luqman:13]

Dalam ayat ini, kurikulum pertama yang diperkenalkan lukman kepada anaknya adalah kurikulum tauhid. yaitu agar tidak menyekutukan Allah ﷻ dengan sesembahan yang lainnya. Karena menyembah kepada selain Allah ﷻ berarti telah terjerumus pada perbuatan syirik, sedangkan syirik merupakan kezaliman yang besar. Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena pebuatan syuruk itu berarti meletakkab sesuatu bukan pada tempatnya. Kesyirikan itu amat jelek dan berakibat jelek, serta kezaliman yang nyata karena kesyirikan adalah menyamakan antara Pencipta (Khalik) dengan yang diciptakan (makhluk), antara patung dan dengan Tuhan, tidak diragukan lagi, dia adalah orang bodoh yang dijauhkan oleh Allah ﷻ dari hikmah dan akal sehat, sehingga pantas untuk disebut zalim.

Oleh sebab itu pentingnya ilmu agar para manusia dapat menjaga diri nya dari kezaliman yang besar dan menempatkan peribadahan mutlaq hanya kepada Allah ﷻ sang Khaliq (pencipta). Maka dari itu Allah ﷻ berfirman :

۞وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ [ التوبة:122-122]

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” [At Tawbah:122]

Relevan dengan ayat diatas, pernyataan dari Ali bin Abi Thalib  yang dituliskan oleh Imam An-Nawawi  pada kitab Adabul Alim wal Muta’alim “satu orang berilmu itu jauh lebih besar pahalanya daripada orang yang berpuasa berdiri tegak berperang di jalan Allah ﷻ”Lalu Abu Hurairah  menyatakan bahwa “mengetahui satu bab ilmu pengetahuan tentang perintah dan larangan itu jauh lebih aku cintai daripada berperang tujuh puluh tahun lamanya”.

Disamping itu Rasulullah ﷻ bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Dari Anas bin Malik  dia berkata Rasulullah ﷺ bersabda “Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. Tirmidzi No. 2571)

Berkenaan dengan derajat keilmuan, Ishaq bin Abdullah bin Abu Farwah  menyatakan bahwa yang bisa mendekati derajat kenabian adalah mereka yang ahli ilmu dan ahli jihad. Sebab, para ulama memberikan petunjuk kepada manusia tentang pesan-pesan yang dibawa oleh Rasul. Sementara, ahli jihad adalah orang-orang yang berjuang untuk menegakkan yang dibawa oleh Rasul.

Selain keutamaan yang telah dijelaskan diatas terkait dengan manfaat pendidikan dari sisi keilmuan, jika diamati aktivitas keilmuan merupakan bentuk kepedulian sosial, yakni suatu ilmu itu dapat memberi manfaat tidak hanya bagi si pemilik ilmu, tapi juga untuk orang-orang yang lainnya. Maka dari itu merupakan sebuah kebahagiaan bagi orang-orang berilmu yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, sebab ia akan mendapatkan pahala kebaikan seperti orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang tersebut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersabda “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim No. 4831)

Disamping hal itu, ilmu merupakan investasi yang sangat berarti bagi umat manusia. Sebab dengan ilmu yang dimilikinya lalu disampaikan dan diamalkan sehingga menjadi sebuah ilmu yang bermanfaat maka pahala kebaikkannya akan terus mengalir meskipun seseorang tersebut telah meninggal. Dan hal ini merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai pada saat seseorang tersebut tidak lagi bisa beramal sebab sudah terputusnya nikmat kehidupan di dunia lantaran kematian, namun ia tetap bisa mendapatkan tambahan pahala dari ilmu yang diamalkannya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim No. 3084)

Oleh karena itu dalam upaya untuk mengalirkan pahala amal shalih kelak, maka proses pembelajaran atas suatu ilmu merupakan hal yang wajib bagi kaum muslimin. Meskipun wajib kifayah, namun ini membuktikan bahwa kedudukan ilmu itu jauh di atas amalan ibadah sunnah. Dalam kita A-Ghiyats, Imam Haramain menegaskan bahwa fardhu kifayah itu jauh lebih utama dari pada fardhu ‘ain jika diihat dari sisi para pelakunya. Sebab, fardhu kifayah merupakan ibadah sosial, yang didalamnya ada nilai tolong-menolong atar umat. Sementara fardhu ‘ain adalah ibadah individual, ia hanya merupakan urusan pribadi manusia dengan tuhannya.