Sejarah Singkat Pendidikan Islam Di Indonesia

Oleh : Al-Faqir Mulauddin

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ERA RASULULLAH ﷺ

Awal mula Pendidikan islam ketika Adam diciptakan oleh Allah ﷻ sebagai manusia pertama, maka Allah ﷻ pun memberikan ilmu kepada Adam  atas semua nama-nama yang ada. Oleh karena itu Adam  dimuliakan oleh Allah ﷻ atas seluruh makhluk-Nya, maka dari itu mereka semua diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk bersujud kepada Adam  sebagai bentuk penghormatan kepadanya dan ketaatan atas perintah Allah ﷻ. Semua makhluk bersujud kepada Adam kecuali Iblis yang karena kesombongannya menolak perintah Allah ﷻ untuk bersujud kepada Adam .

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ [ البقرة:31-34]

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” * Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana * Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” * Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [Al Baqarah: 31-34]

Inilah pendidikan islam pertama kali yang diterima oleh manusia pertama tentang sebuah ilmu atas nama-nama yang ada seluruhnya sehingga kedudukan manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain.

Pada era Nabi Muhammad ﷻ pendidikan islam pertama kali dilakukan setelah beliau menerima wahyu tepatnya beliau mengadakan pendidikan dirumah Al-Arqam bin Abdi’ Manaf. Disana Rasulullah ﷻ mengajarkan islam kepada para sahabat yang termasuk dalam golongan orang-orang awal yang masuk islam.

Disamping pembelajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷻ di rumah Al-Arqom bin Abdi Manaf, orang-orang arab sebelumnya juga telah mengenal pendidikan yang mengajarkan menulis dan membaca yang disebut dengan kuttab atau maktab. kuttab atau maktab berasal dari kata taktib yang berarti mengajarkan menulis. Dan juga diambil dari kata kataba yang berarti menulis. Sedangkan kuttab atau maktab adalah tempat dimana dilangsungkannya pembelajaran tulis-menulis. Setelah Rasulullah ﷻ menerima wahyu maka pembelajaran di kuttab digunakan sebagai sarana untuk mempelajari al-Qur’an dan dasar-dasar keislaman. Salah satu metode pembelajaran di kuttab adalah dengan sistem halakah yaitu seorang murabbi atau pembimbing yang mengajarkan mutarobi nya atau yang dibimbingnya.

Lembaga pendidikan selanjutnya pada era Rasulullah ﷻ adalah Masjid. Dari kata sajada, yusajidu, masajid/sajdan yang artinya tempat sujud. Secara klasifikasi masjid adalah lembaga pendidikan menengah setelah kuttab. Pembangunan masjid pertama dibangun oleh Rasulullah ﷻ di Quba yang dikenal dengan Masjid Quba dan setelah tiba di Madinah Rasulullah ﷻ pun membangun masjid yang dikenal dengan Masjid Nabawi. Disana Rasulullah ﷻ selain menjadikan masjid sebagai tempat ibadah, masjid juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan yang mengurus persoalan sosial dan politik. Selain itu masjid juga dijadikan sebagai pusat pendidikan Rasulullah ﷻ mengajarkan Islam kepada para sahabat dari sumber yang utama yaitu Al-Qur’an yang merupakan wahyu dari Allah ﷻ dan penjelasannya dari Rasulullah ﷻ yang merupakan As-Sunnah. Dan pendidikan ini dilanjutkan pada era Khulafaur Rasyidin serta para khalifah setelahnya.

SEJARAH PESANTREN DI INDONESIA

Masuknya islam ke Indonesia terbilang cukup unik dengan masuk nya islam ke negara lain yang biasanya dilalui dengan jalur peperangan. Meskipun banyak versi yang menceritakan tentang awal masuknya islam ke Indonesia tentang waktu pertama datangnya islam, tempat pertama datangnya islam, siapa yang membawanya, bagaimana prosesnya apabila diambil kesimpulan maka islam datang ke indonesia melalui jalan damai tanpa peperangan yang dibawa oleh para pedagang dan Mubaligh ke Indonesia. Masuknya islam di Indonesia tidak bisa lepas dari peran pendidikan yang ketika itu awal pengajaran islam masih dengan metode informal dengan pendekatan ceramah, dialog interaktif maupun contoh dalam kehidupan keseharian.

Seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia maka banya masyarakat Indonesia yang memeluk agama Islam, sehingga hal tersebut mendorong terkait dengan pembangunan masjid sebagai sarana beribadah dan juga pembangunan sarana pendidikan lainnya. Hal yang dilakukan para Mubaligh di Indonesia pada awal masuknya Islam, mengikuti contoh dari Rasulullah ﷺ yakni menjadikan masjid selain sebagai sarana ibadah juga digunakan untuk sarana pendidikan dengan menggunakan metode halaqoh dimana para pelajar mendengarkan penjelasan dari sang pengajar.

Setelah masyarakat muslim mulai tumbuh di Indonesia maka kerajaan-kerajaan islam pun bermunculan, oleh karena itu sistem pendidikan islam pun mulai menemukan hal yang baru salah satunya adalah sistem meunasah. Sistem meunasah ini secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu Madrasah yang artinya tempat belajar. Kerajaan samudera pasai membuat sebuah kebijakan bahwa apabila ingin mendidikan sebuah kampung maka syaratnya adalah harus mendirikan meunasah, oleh karena itu meunasah pun bermunculan di tiap-tiap kampung kerajaan muslim. Lembaga pendidikan meunasah ini merupakan lembaga pendidikan menengah setelah pendidikan di masjid atau langgar, karena unsur-unsur syarat dalam pendirian meunasah ini juga harus memiliki Imum Meunasah yang berarti adalah seorang Alim yang mengajarkan ilmu. Sehingga para santri yang belajar di Meunasah pun memiliki klasifikasi dari sisi umur yakni orang-orang yang baru berumur sekitar 5-15 tahun untuk mengenyam pendidikan dasar.

Setelah lembaga pendidikan meunasah maka ada juga lembaga pendidika Rangkang. Rangkang adalah sebuah tempat tinggal yang ada disekeliling masjid, tujuannya adalah para santri yang belajar dimasjid setelah menempuh jenjang pendidikan meunasah dapat lebih memperdalam keilmuannya di rangkang. Sehingga para pelajar di Rangkang ini difasilitasi tempat tinggal agar bisa lebih fokus dalam belajar. Jenjang pendidikan rangkan ini ditempuh setelah selesai mentuntaskan pendidikan meunasah. Setelah rangkang maka lembaga pendidikan diatasnya adalah Dayah. Dayang merupakan lembaga pendidikan yang lebih tinggi dari tingkat Meunasah dan Rangkang. Di Dayah para pelajar diharapkan sudah mampu membaca al-Qur’an, baik dipelajari di Meunasah ataupun mempelajarinya dirumah.

Sistem pendidikan di dayah atau rangkang tidak ubahnya dengan sistem pesantren di wilayah Jawa dan surau di wilayah Sumatera Barat. Pesantren secara etimologi berasal dari kata santri dengan tambahan imbuhan pe- dan -an yang berarti tempat tinggal santri. Secara terminologi pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang di dalam nya syarat dengan pendidikan islam yang dipahami dan dihayati serta diamalkan dengan menekankan pentingnya moral agama islam sebagai pedoman hidup.

Secara sistem pembelajaran pesantren memiliki metode pembelajaran yakni bandongan dan sorogan. Bandongan merupakan metode dimana seorang guru atau kyai ceramah mengajarkan atau menjelaskan sebuah ilmu dari kitab atau yang lainnya kepada para murid atau santrinya yang masing-masing memegang kitab yang sama, sehingga mereka dapat mendengarkan, mencatat, mengerti dan memahami yang disampaikan oleh guru atau kyainya. Hal tersebut mirip dengan metode klasikal yang dijalankan oleh lembaga pendidikan modern. Adapun metode Sorogan adalah metode pembelajaran dimana santri menyodorkan sebuah kitab dihadapan kyai atau gurunya untuk diberikan tuntunan cara membacanya, menghafalkannya atau pada tingkatan lebih lanjut tentang menerjemahkan serta menafsirkannya.

Berdirinya pesantren di Indonesia merupaka sebuah tuntutan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak dan terbebas dari kolonial. Menurut catatan departemen agama tahun 1984, sejarah pesantren yang pertama kali didirikan adalah Pesantren Pamekasan di Madura, pesantren ini didirikan pada tahun 1062. Meskipun terdapat perdebatan para ahli sejarah, sebab kalau ada Jan Tampes II tentu ada Jan Tampes I yang tentunya lebih tua. Akan tetapi, peran serta sumbangsih pondok pesantren di Nusantara merupakan lembaga pendidikan yang tertua dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tidak diragukan lagi.

Sekitar abad ke-18 keberadaan pesantren sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat terutama dalam mempelajari ilmu agama islam. Menurut Zamakhsyari Dhofier pengajaran agama lewat kitab-kitab klasik memiliki beberapa unsur diantaranya adalah kyai, santri, masjid, pondok dan pengajaran kitab-kitab klasik. Dalam perkembangannya pesantren mengalami dinamika dari tradisionalis modernisasi seiring dengan kemampuan dan kesediaan pesantren mengadopsi hal-hal baru. Sehingga secara garis besar pondok pesantren terdiri dari 2 (dua) kategori, yaitu Pesantren Salafi (tradisional) yakni pesantren yang masih menggunakan pola yang lama dan Pesantren Khalafi (modern) yang sudah menggunakan unsur-unsur pembaharuan.

Adapun kitab yang diajarkan berdasarkan tingkatannya sebagai berikut:

Untuk tingkat dasar:

  1. Al-Qur‘an
  2. Tauhid: Al-Jawar al-Kalamiyyah ‘ummu al-Barahim
  3. Fiqih: Safinah al-Shalah, Safinah al-Naja’, Sullam al-Taufiq, Sullam al-Munajat
  4. Akhlaq: Al-Washaya al-Abna’, Al-Akhlaq li al-Banat
  5. Nahwu: Nahw al Wadlih al-Ajrumiyyah
  6. Saraf: Al-Amtsilah al-Tasrifiyyah, Matn al-Bina’ wa al-Asas

Untuk tingkat menengah pertama:

  1. Tajwid: Tuhfah al-Athfal, Hidayah al-Mustafid, Mursyid al-Wildan, Syifa’ alRahman
  2. Tauhid: Aqidah al-Awwam, Al-Dina al-Islami
  3. Fiqih: Fath al-Qarib (Taqrib), Minhaj al-Qawim Safinah al-Shalah
  4. Akhlaq: Ta’lim al-Muta’allim
  5. Nahwu: Mutammimah Nazham, Imriti, AlMakudi, Al-Asymawi
  6. Sharaf: Nazaham Maksud, al-Kailani
  7. Tarikh: Nur al-Yaqin

Untuk tingkat menengah atas;

  1. Tafsir: Tafsir al-Qur’an al-Jalalain, Al-Maraghi
  2. Ilmu Tafsir: Al-Tibya Fi ‘Ulum al-Qur’an, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, Manah al-Irfan
  3. Hadiis: Al-Arba’in al-Nawawi, Mukhtar al-Maram, Jawahir al-Bukhari, Al-Jami’ al-Shaghir
  4. Musthalah al-Hadis: Minha al Mughits, Al-Baiquniyyah
  5. Tauhid: Tuhfah al-Murid, Al-Husun al-Hamidiyah, Al-Aqidah alIslamiyah, kifayah al-Awwam
  6. Fiqih: Kifayah al-Akhyar
  7. Ushul al-Fiqh: Al-Waraqat, Al-Sullam, Al-Bayan, Al-Luma’
  8. Nahwu dan Sharaf: Alfiyah ibnu Malik, Qawa’id al-Lughah al-Arabiyyah, Syarh ibnu Aqil, Al-Syabrawi, Al-‘Ilal, ‘Ilal al-Sharaf
  9. Akhlaq: Minh al-‘Abidin, Irsyad al-‘Ibad
  10. Tarikh: Ismam al-Wafaq
  11. Balaghah: Al-Jauhar alMaknun

Dan untuk tingkat tinggi;

  1. Tauhid: Fath al-Majid
  2. Tafsir: Tafsir Qur’an Azhim (Ibnu Katsir), Fi zhilal al-Qur’an
  3. Ilmu Tafsir: Al-Itqan fi ‘ulum Al-Qur’an, Itmam al-Dirayah
  4. Hadist: Riyadh al-SHalihin, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan, SHahih al-Bukhari, shahih al-Muslim, Tajrid al-SHalih
  5. Mustalah al-Hadits: Alfiyah al-Suyuthi
  6. Fiqih: Fath al-Wahhab, Al-Iqna’, Al-Muhadzdzab, Al-Mahalli, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al Arba’ah, Bidayah al-Mujtahid
  7. Ushul al-Fiqh: Latha ‘ifa al-Isyarah, Jam’u al-Jawami’, Al-Asybah wa al-Nadhair, Al-Nawahib al-Saniyah
  8. Bahasa Arab: Jami’ al-Durus Al-Arabiyyah
  9. Balaghah: Uqud al-Juman, Al-Balaghah al-Wadhihah
  10. Mantiq: Sullam al-Munauraq
  11. Akhlaq: Ihya’ ‘Ulum al-Din, Risalah al-Mu’awwamah, Bidayah al-Hidayah
  12. Tarikh: Tarikh Tasyri’

Kitab-kitab tersebut pada umumnya dipergunakan dalam pengajian standar oleh pondok-pondok pesantren. Selain yang telah dikemukakan di atas, masih banyak kitab-kitab yang dipergunakan untuk pendalaman dan perluasan pengetahuan ajaran Islam. kitab-kitab itu sebagai berikut:

Dalam bidang ilmu tafsir:

  1. Ma’ani al-Qur’an
  2. Al-Basith
  3. Al-Bahal al-Muhin
  4. Jami ‘al-Ahkam al-Qur’an
  5. Ahkam al-Qur’an
  6. Mafatih al-Ghaib
  7. Lubah al-Nuqul fi Asbab Nuzulul al-Qur’an
  8. Al-Burhan fi’ ‘ulum al-Qur’an
  9. Ijaz al-Qur’an

Dalam bidang hadis;

  1. Al-Muwaththa’
  2. Sunan al-Turmudzi
  3. Sunan Abu Dawud
  4. Sunan al-Nasa’i
  5. Sunan Ibn Majah
  6. Al-Musnad
  7. Al-Targhib wa al-Tarhib
  8. Nail al-Awrar
  9. Subul al-Salam

Dalam bidang fiqih;

  1. Al-Syarh al-Kabir
  2. Al-‘Umm
  3. Al-Risalah
  4. Al-Muhalla
  5. Fiqh Al-Sunnah
  6. Min Taujihah al-Islam
  7. Al-Fatawa
  8. Al-Mughni li Ibn Qudamah
  9. Al-Islam Aqidah Wa Syariah
  10. Za’ad al-Ma’ad