Meneladani Adab Mulia Rasulullah ﷺ Ketika Di Kota Tha’if

Oleh : Aforisma Mulauddin, M.E (Kepala Pendidikan Ma’had Tuhfatul Islam)

Pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau awal Juni tahun 619 M dalam melewati fase tahun kesedihan setelah ditinggal wafat oleh Abu Thalib sebagai pamannya dan juga Khadijah binti Khuwailid sebagai istrinya tercinta yang senantiasa melindungi dan mendukung dakwah islam di tengah-tengah kaum kafir Quraisy saat itu, Rasulullah ﷺ pun mencari sasaran dakwah baru setelah di kota Mekkah mendapatkan siksaan dan ancaman. Maka beliau pun berjalan sejauh 60 mil dari kota Mekkah dengan seorang anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah menuju sebuah kota yang bernama Tha’if.

Rasulullah ﷺ merupakan manusia yang diberikan kemuliaan oleh Allah ﷻ berupa kemuliaan akhlaqnya. Sebagaimana yang disampaikan didalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat ke-4 :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Kemuliaan akhlaq Rasulullah ﷺ pun diakui oleh kalangan manusia, diantaranya yang disampaikan oleh sahabat beliau ﷺ yaitu Anas bin Malik didalam kitab Shahih Bukhari pada hadits nomor 6203 mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah sosok yang paling mulia akhlaknya. Dengan kemuliaan akhlaq beliau ﷺ maka Allah ﷻ pun memberikan tugas yang mulia, yakni mengangkat derajat kepribadian manusia sebagaimana yang beliau ﷺ sampaikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam kitab Sunan al-Kubra lil Baihaqi dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq yang Mulia”

Hal tersebut dapat terlihat tatkala Rasulullah ﷺ tiba di kota Tha’if untuk menyampaian risalah yang diembannya, namun tidak ada satupun dari penduduk kota Tha’if yang menerima risalahnya. Alih-alih dalam kitab ar-Rahiqul Makhtum karangan Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri disampaikan bahwa salah seorang diantara mereka (penduduk Tha’if) ada yang mengatakan “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?”, orang yang lainnya pun berkata “Demi Allah! Aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang Rasul, sungguh engkau terlalu agung untuk dibantah ucapanmu dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah, maka tidak patut pula aku berbicara denganmu”.

Tidak berhenti sampai disitu selama sepuluh hari Rasulullah ﷺ dan anak angkatnya Zaid bin Haritsah berada di Tha’if senantiasa menyampaikan risalah kebaikan kepada para pemuka penduduk Tha’if, namun sebaliknya jawaban mereka hanyalah “Keluarlah engkau dari negeri kami!”. Tatkala beliau ﷺ ingin keluar, orang-orang tak bermoral justru mencaci-maki dengan ucapan tak senonoh, menghadang beliau dengan dua barisan dan melemparinya dengan batu hingga menghujani tumitnya sampai bersimbah darah. Sampai akhirnya Rasulullah ﷺ singgah di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah kedua putra Rabi’ah yang berjarak 3 mil dari kota Tha’if.

Dalam keadaan penuh luka dan perasaan yang sangat kecewa maka Rasulullah ﷺ menghaturkan sebuah do’a kepada Allah ﷻ :

اللهم إليك أشكو ضعف قوتي، وقلة حيلتي، وهواني على الناس، يا أرحم الراحمين، أنت رب المستضعفين، وأنت ربي، إلى من تكلني؟ إلى بعيد يتجهمني؟ أم إلى عدو ملكته أمري؟ إن لم يكن بك علي غضب فلا أبالي، ولكن عافيتك هي أوسع لي، أعوذ بنور وجهك الذي أشرقت له الظلمات، وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة من أن تنزل بي غضبك، أو يحل علي سخطك، لك العتبى حتى ترضى، ولا حول ولا قوة إلا بك

“Ya Allah! Sesungguhnya kepada-Mu lah aku mengadukan kelemahan diriku, sedikitnya upayaku serta hina dinanya diriku dihadapan manusia, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih! Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas, Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku? (apakah) kepada orang lain yang selalu bermuka masam terhadapku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, akan tetapi ampunan yang Engkau anugerahkan adalah lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan perantaraan Nur Wajah-Mu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak turunkan murka-Mu kepadaku atau kebencian-Mu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau menjadi ridha. Tiada daya serta upaya melainkan karena-Mu.”

Mendengar lantunan doa yang disampaikan oleh makhluk-Nya yang paling mulia dimuka bumi ini, maka berdasarkan kisah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dengan sanad dari Urwah bin Zubair bahwasanya Aisyah menceritakan bahwa Allah ﷻ pun senantiasa memberikan jawaban atas doa tersebut dengan mengutus malaikat Jibril yang berkata :

إن الله قد سمع قول قومك لك، وما ردوا عليك. وقد بعث الله إليك ملك الجبال لتأمره بما شئت فيهم

“Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka kepadammu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka”

Lalu malaikat penjaga gunung tersebut pun berkata :

يا محمد، ذلك، فما شئت، إن شئت أن أطبق عليهم الأخشبين

“Wahai Muhammad, Hal itu terserah padamu, jika engkau menghendaki aku meratakan mereka dengan al-Akhsyabain, maka akan aku lakukan”

Dengan penuh kemuliaan dan keluhuran Akhlaq, Rasulullah ﷺ pun memberikan jawaban atas penawaran tersebut dengan jawaban yang penuh dengan keistimewaan dan kasih sayang kepada ummatnya, yakni :

بل أرجو أن يخرج الله عز وجل من أصلابهم من يعبد الله عز وجل وحده لا يشرك به شيئا

“Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata, dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Sebuah jawaban yang mengesampingkan rasa pribadi dan mengedepankan optimisme terhadap hasil dari tugas yang mulia yakni mengajak manusia untuk mengesakan Allah ﷻ atas segala bentuk kesyirikan-kesyirikan. Hal tersebut merupakan keluhuran Akhlaq Nabi ﷺ yang patut untuk dijadikan contoh oleh seluruh manusia, bahwasanya ketika ada orang lain melukai fisik maupun perasaan pribadi maka seyogyanya tidak perlu membalas perbuatan tersebut dengan keburukan lainnya namun hendaknya cukup dengan mendoakan kebaikan bagi pelaku tersebut agar Allah ﷻ memberikan ampunan dan hidayah kepadanya untuk bertaubat atas perbuatannya tersebut.

Oleh karena itu nasihat yang dapat diambil dari kisah tersebut khususnya bagi para santri Ma’had Tuhfatul Islam Adab and Qur’anic Boarding School adalah dalam berinteraksi kepada sesama teman, keluarga, guru, orang tua atau siapapun baik dalam kondisi senang ataupun kecewa agar senantiasa mendoakan mereka atas kebaikan dan tetap memperhatikan Adab-adab Islami sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Sebab di dalam jiwa Rasulullah ﷺ terdapat suri tauladan bagi semua manusia.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan (QS. Al-Ahzab : 21)

Dengan meneladani keluhuran Adab Rasulullah ﷺ maka para santri sekalian telah meneladani al-Qur’an, karena sejatinya Adab Rasulullah ﷺ adalah al-Qur’an. Seperti sebagai mana yang pernah ditanyakan oleh para sahabat kepada Ummul Mukminin Aisyah dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1233.

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ ﷺ كَانَ الْقُرْآنَ

“Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak ?” Aisyah menjawab; “Bukankah engkau telah membaca Alquran?” Aku menjawab; “Benar, ” Aisyah berkata; “Akhlak Nabi adalah Al Quran.”

Demikian hikmah yang bisa diambil dari kemuliaan Akhlaq Rasulullah ﷺ ketika ditengah-tengah kegundahan dan luka yang membaluti tubuhnya, beliau ﷺ tetap dapat menampilkan sikap yang agung dan sulit untuk diselami oleh manusia biasa. Semoga dengan meneladaninya para santri dan seluruh kaum muslimin dapat dinobatkan sebagai umat Rasulullah ﷺ dengan kemuliaan Adab-adab Islami.

 

Sumber rujukan :

Al-Qur’an al-Karim

Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Beirut.

Al-Sunan al-Kubra, Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Baihaqi, Beirut.

Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Bukhari, Beirut.

Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj Abu Hasan al-Qusyairi an-Naisaburi, Beirut.