Memiliki Anak Yang Sholeh Adalah Dambaan Setiap Muslim

Yatim sebelum orang tuanya wafat.

Memiliki anak yang sholeh adalah dambaan seiap muslim, karena dia adalah anugrah yang kenikmatannya tidak akan lapuk oleh zaman bahkan sepanjang zaman di dunia dan akhirat akan senantiasa meberikan kebaikan bagi orang tuanya. Tetapi untuk mendapatkannya tak semudah ketika ibunya melahirkannya akan tetapi untuk mendapatkannya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.

Sesungguhnya meidamkan anak yang sholeh harus di cita-citakan dan menjadi salah satu misi dari  keluarga islami, layaknya sebuah bangunan dia harus dibangun secara bekerja sama, saling bersinergi antara ayah dan ibu. Ayah adalah kepadala rumah tangga yang harus memerankan sosok seorang pemimpin yang harus mengawal proses lahirnya anak yang sholeh.

Alloh berfirman:

“ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS.An-nisa:34)

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan dan menyiapkan pengganti dirinya, dan ini sifat para nabi dan rasul yang mereka risau jika dimasa tua mereka belum ada pengganti dirinya, demikian orang tua harus merasakan yang sama seperti yang dirasakan oleh para pemimpin sejati (para nabi dan rasul).

Peran yang sangat penting dalam meraih anak yang sholeh adalah peran sang madrasatul ula (wanita), wanita memiliki peran yang sangat menetukan baiknya sebuah generasi karena ibu lah yang banyak berinteraksi sejak dalam kandungan sampai di usia awal baligh. Sejarah telah mencatat bahwa dibalik sosok pemuda sholeh yang sukses terdapat sosok ibu yang sholehah.

Inilah rahasianya kenapa Allah menyuruh wanita untuk lebih memilih tempat terbaiknya dirumah, Alloh berfirman:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya…” (QS.Al-Ahzab:33)

Ini adalah perintah bagi wanita muslimah agar betah dirumah karena perintah ini mengandung mashlahat dan hikmah yang sangat besar diantaranya wanita punya tugas yang tidak remeh yaitu mengurus pendidikan sang buah hati.

Ketika ayah dan ibu bekerjasa dalam mengambil perannya masing-masing maka diharapkan anak akan tumbuh dari pendidikan orangtuanya. Ayah laksana sayap kanan dan ibu sayap kirinya, ayah akan mengajari berpikir yang cerdas dan ibu akan mengajari sebuah bentuk perasaan yang halus. Jika salah satu dari dua hal ini tidak didapatkan dari anak maka sang anak akan mengalami ketidak seimbangan dan akhirnya memunculkan hal buruk di masa depan.

Anak yatim bukan hanya yang bapaknya wafat tapi hakekatnya jika sang anak tidak mendapatkan peran pendidikan dari mereka itulah hakikat keyatiman tanpa sadar.