Program Lembaa Pendidikan Tuhfah Al Islamy

Oleh : Al-Faqir Mulauddin

URGENSI PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS PESANTREN

Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang fokus mengajarkan ilmu-ilmu syariah kepada para santrinya. Ilmu syariah merupakan ilmu yang prioritas bagi semua manusia dalam menjalani hidupnya. Indonesia yang notabene masyarakat muslim, berdasarkan data BPS pada tahun 2010 sebanyak 87% dari penduduk Indonesia, sangat membutuhkan pembelajaran ilmu syariah baik dalam melaksanakan ibadah kepada Rabb-Nya maupun dalam kehidupan kesehariannya. Sebab ilmu syariah bukan hanya mengajarkan perkara ibadah ritual, namun mengajarkan juga mengenai interaksi antar manusia.

Disamping itu pula lembaga pendidikan pesantren sangat cocok dengan masyarakat indonesia berdasarkan pembelajarannya yang terdiri dari beberapa unsur, diantaranya Kyai, Santri, Pondok, Masjid dan Pengajaran Kitab Klasik. Kyai merupakan salah seorang tokoh yang memiliki kapasitas keilmuwan sebagai pimpinan pondok pesantren dan juga sebagai pimpinan masyarakat dari sisi keagamaan yang didengarkan nasihat, petuah dan sarannya. Santri merupakan generasi-generasi muda yang mempelajari ilmu agama kepada seorang kyai, baik santri tersebut belajar secara menetap dengan tinggal di pondok (tempat tinggal santri) yang biasa berasal dari luar daerah atau santri yang belajar secara tidak menetap yang biasa berasal dari daerah sekitar pesantren.

Pondok merupakan sarana tempat tinggal bagi para santri yang datang dari luar wilayah untuk menimba ilmu di pesantren tersebut. Dari pondok ini para santri terdidik untuk terbiasa menjalani kehidupan mandiri. Sehingga pendidikan pesantren melalui pondok ini melatih para santri agar terbiasa hidup bermasyarakat. Sebab mulai dari mandi, makan, berpakaian dan kebutuhan hidup lainnya para santri harus menyiapkan pribadi segala sesuatunya. Sehingga dari sinilah dapat melahirkan karakter kepemimpinan dari seorang santri tersebut.

Masjid sebagai pusat peribadahan santri dan masyarakat pesantren, biasanya digunakan sebagai sarana pembinaan terhadap masyarakat luar di sekitar pesantren yang biasanya dilakukan oleh sang kyai dalam memberikan pengajaran terhadap ilmu-ilmu agama. Kitab-kitab klasik merupakan salah satu sumber pembelajaran di pesantren yang telah disusun oleh para ulama berdasarkan dari sumber islam yakni al-Qur’an dan Hadits serta penjelasan dari para salafushalih. Sehingga dengan pembelajaran dari kitab-kitab klasik ini para santri dan juga masyarakat mendapatkan pembinaan ilmu agama yang menjadi pedoman dalam beribadah maupun dalam berinteraksi di kehidupan sehari-hari.

PROGRAM LEMBAGA PENDIDIKAN TUHFAH AL-ISLAMY

Yayasan Tuhfah Al-Islamy dalam menunjang visi Menebarkan Dakwah Membangun Insan Beriman, Beramal dan Berakhlaqul Karimah melakukan langkah-langkah konkret salah satunya dengan mendirikan lembaga pendidikan berbasis pesantren. Berdasarkan kesepakatan bersama pada hasil Musyawarah Kerja Yayasan Tuhfah Al-Islamy Bogor tahun 2019 maka disepakati bahwa pada tahun ke-1 (pertama) akan dibuka lembaga pendidikan berbasis pesantren khusus laki-laki (ikhwan).

Adapun jenjang lembaga pendidikan berbasis pesantren ini setara dengan jenjang SMP/Tsanawiyah sedangkan program kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum pesantren yang berkonsentrasi pada Tahfidzul Qur’an dan Ulumul Syar’i. Sehingga lembaga pendidikan berbasis pesantren ini tidak menginduk kepada kurikulum Pendidikan Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) ataupun kurikulum Pendidikan Islam dari Kementerian Agama (Kemenag). Oleh karena itu Ijazah yang akan diterima oleh peserta didik atau santri adalah ijazah yang dikeluarkan oleh Pesantren dan jika memungkinkan akan dikeluarkan ijazah Paket B bagi peserta didik atau santri yang mengikuti proses pembelajaran tersebut.

Setelah lembaga pendidikan berbasis pesantren setara dengan jenjang SMP/Tsanawiyah berjalan sampai pada lulusan pertama alias tahun ke-4 (empat), maka lembaga pendidikan berbasis pesantren setara dengan jenjang SMA/Aliyah akan dibuka masih dengan kategori peserta didik atau santri khusus laki-laki (ikhwan). Adapun untuk program kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum pesantren yang dikolaborasi dengan kurikulum nasional berkonsentrasi pada Tahfidzul Qur’an, Ulumul Syar’i dan Pendidikan Umum. Sehingga ijazah yang akan didapatkan oleh peserta didik adalah ijazah pesantren dan juga ijazah formal jenjang SMA/Aliyah.

Adapun lembaga pendidikan berbasis pesantren dengan kategori peserta didik atau santri khusus perempuan (akhwat) jenjang SMP/Tsanawiyah akan dibuka setelah tahun ke-7 (tujuh) alias setelah lembaga pendidikan pesantren khusus laki-laki (ikhwan) jenjang SMP/Tsanawiyah melahirkan 4 (empat) lulusan dan jenjang SMA/Aliyah melahirkan lulusan pertama. Adapun program kurikulum yang diterapkan sama dengan lembaga pendidikan pesantren jenjang SMP/Tsanawiyah khusus laki-laki (ikhwan) yang berkonsentrasi pada Tahfidzul Qur’an dan Ulumul Syar’i tanpa menginduk pada Kurikulum Nasional. Sehingga ijazah yang akan didapatkan adalah ijazah pesantren dan jika memungkinkan akan dikeluarkan ijazah Paket B bagi peserta didik atau santri yang mengikuti proses pembelajaran tersebut.

Sedangkan lembaga pendidikan berbasis pesantren dengan kategori peserta didik atau santri khusus perempuan (akhwat) jenjang SMA/Aliyah akan dibuka setelah tahun ke-10 (tujuh) alias setelah lembaga pendidikan pesantren jenjang SMP/Tsanawiyah khusus perempuan (akhwat) melahirkan lulusan pertamanya. Adapun program kurikulum yang diterapkan sama dengan lembaga pendidikan pesantren jenjang SMA/Aliyah khusus laki-laki (ikhwan) yakni kurikulum pesantren yang dikolaborasi dengan kurikulum nasional serta berkonsentrasi pada Tahfidzul Qur’an, Ulumul Syar’i dan Pendidikan Umum. Sehingga ijazah yang akan didapatkan adalah ijazah pesantren dan juga ijazah formal jenjang SMA/Aliyah.

Demikianlah proyeksi program pendidikan 10 (sepuluh) tahun kedepan dalam mendirikan lembaga pendidikan islam berbasis pesantren dengan program pendidikan Al-Qur’an, pendidikan Islam dan Pendidikan ilmu lainnya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi peserta didik atau santri maupun kalangan masyarakat kaum muslimin pada umumnya.