Sejarah Yayasan Tuhfah Al-Islamy

Oleh : Aforisma Mulauddin, S.Kom., M.E

Landasan

Islam merupakan gerbang kehidupan manusia. Kehidupan yang sementara maupun kehidupan hakiki. Kehidupan sementara adalah kehidupan yang saat ini dijalani oleh manusia di dunia, sebab kehidupan di dunia ini akan berakhir pada kematian dan juga akan binasa nya pada hari kiamat. Lalu setelah manusia mengakhiri kehidupannya di dunia, maka manusia memasuki babak baru dalam kehidupannya, yakni kehidupan akhirat. Di dalam kehidupan ini dari sejak manusia pertama di ciptakan yakni nabi Adam sampai dengan manusia terakhir yang terlahir di muka bumi ini akan menjalani kehidupan panjang abadi tak bertepi. Maka pada saat inilah manusia menjalani kehidupan yang hakiki.
Pada kehidupan tersebut manusia membutuhkan sebuah petunjuk yang dapat mengarahkan manusia dalam menjalani kehidupan tersebut, dan petunjuk itulah disebut dengan ilmu. Sehingga islam yang menjadi gerbang kehidupan manusia menjadikan ilmu sebagai hal yang wajib didapatkan oleh seluruh manusia, sebab dengan ilmu manusia dapat mengetahui kebaikan dan tujuan manusia tersebut diciptakan. Ibnu Abdil al-Barr meriwayatkan dalam kitab Jami’-nya (Jami’u Bayani Al-Ilmi Wa Fadhilihi) dari Anas dari Rasulullah ﷻ bersabda:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ ومُسْلِمَةٍ

“menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim dan muslimah”
As-suyuthi berkata Asy-Syaikh Muhyidin An-Nawawi pernah ditanya tentang hadits ini, dan beliau menjawab:, “ia adalah hadits yang dha’if; maksudnya adalah sanadnya, meskpun sebenarnya shahih; maksudnya adalah maknanya”
Imam Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’limul Muta’alim mengatakan bahwa Perlu diketahui, seorang muslim wajib mempelajari semua yang akan ia jalani, keadaan apa pun itu. Dengan demikian, karena ia harus menegakkan shalat maka ia wajib mempelajari shalat, minimal ilmu yang dengannya ia bisa menjalankan kewajiban shalat. Selain itu, sekurang-kurangnya ia wajib mempelajari ilmu yang dengannya ia dapat menjalankan semua kewajiban. Begitu juga dalam perkara puasa, zakat dan haji jika memang sudah wajib baginya. Sama halnya dengan jual beli, jika ia memang orang yang berprofesi sebagai pedagang.

Dengan ilmu, Allah ﷻ menunjukkan kemuliaan Adam atas malaikat dan Allah ﷻ memerintahkan mereka untuk bersujud kepadanya. Ilmu menjadi mulia tak lain karena ia merupakan wasilah menuju kebaikan dan ketakwaan, yang dengannya seseorang berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah ﷻ dan kebagaiaan yang abadi.
Setiap manusia berkewajiban untuk mempelajari ilmu, terutama ilmu yang mengajarkan manusia untuk menjalani tujuannya diciptakan yakni beribadah kepada Allah ﷻ. Sesuai dengan firman Allah ﷻ di dalam al-Qur’an:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ [ الذاريات:56-56]

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” [Adh Dhariyat:56]

Oleh sebab itu sarana-sarana yang menunjang kewajiban menuntut ilmu tersebut pun menjadi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Sebab, sesuatu yang menjadi wasilah untuk menegakkan sesuatu yang fardhu maka hukumnya juga fardhu. Demikian pula sarana yang mendukung pendidikan maka wajib untuk dipenuhi untuk memberikan fasilitas setiap kegiatan menuntut ilmu. Sesuai dengan sebuah kaidah fiqh :

“Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib.”

Kronologis

Beberapa sarana-sarana menuntut ilmu tidak terlepas dari beberapa unsur diantaranya ilmu, sumber daya manusia dan fasilitas penunjang. Ilmu yang diturunkan langsung dari Al-Aliim (العليم) Sang Maha Pemilik Ilmu yakni Allah ﷻ melalui risalah Rasulullah ﷻ yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan 2 (dua) sumber hukum islam yang utama. Sedangkan sumber daya manusia merupakan para manusia yang dianugerahkan pemahaman tentang Dinnullah sehingga berperan untuk melanjutkan tugas para nabi dan rasul yaitu mendakwahkan islam kepada seluruh manusia. Oleh karena itu semua orang yang memiliki kapasitas ilmu yang bermanfaat terhadap kehidupan manusia terutama ilmu agama sesuai dengan pemahaman para salafushalih maka wajib untuk mengajarkannya kepada manusia sebagai bentuk penitian terhadap jalan para nabi dan rasul.

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf:108]

Maka untuk memenuhi unsur-unsur sarana menuntut ilmu tersebut, yang selanjutnya adalah berdirinya Yayasan Tuhfah Al-Islamy hadir untuk melengkapi unsur fasilitas penunjang dan berkontribusi dalam dunia pendidikan islam dalam bidang lembaga pendidikan berbasis pesantren. Diinisiasi oleh beberapa tokoh pendiri Yayasan Tuhfah Al-Islamy pada pertemuan tanggal 30 Oktober 2018 di kediaman salah satu tokoh pendiri sekaligus muwakif lahan pesantren tahap awal sebesar 5020 M2 yang beralamat di Jl. Gotong Royong RT 05/06 Desa Cogreg, Parung – Bogor yakni Bapak H. Ridwan Rosadi maka dibentuklah kerangka pembentukan yayasan yang terdiri dari Usulan Nama Yayasan, Segmentasi Yayasan, Kekayaan Awal, Alamat Yayasan, Visi yayasan, Misi Yayasan, Struktur Jajaran Yayasan serta Nama dan Program Lembaga Pendidikan.

Selanjutnya beberapa tokoh pendiri Yayasan menghadap ke Liza Any Susanty, SH selaku notaris untuk menyusun Anggaran Dasar dan Mendapatkan Akta Notaris No. 1 13 November 2018. Setelah itu maka Yayasan Tuhfah Al-Islamy didaftarkan ke kantor Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk mendapatkan pengesahan badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (SK MENKUMHAM) dengan Nomor AHU-0016860.AH.01.04.Tahun 2018 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Yayasan Tuhfah Al-Islamy Bogor yang ditetapkan di Jakarta tanggal 04 Desember 2018.